Aksi Nyata Modul 3.1
Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran
Alhamdulillah,
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kesempatan menjadi bagian dari
perubahan. Semoga dengan menjadi bagian
Program Guru Penggerak dapat menjadi langkah awal dari proses
pembelajaran yang lebih baik.
Hallo,
Assalamualaikum...! Apa kabar rekan -rekan sekalian? Kita bertemu lagi di ruang
berbagi tentang kegiatan yang dilakukan CGP dalam Program Guru Penggerak. Kali
ini, saya akan berbagi cerita tentang aktivitas Kegiatan Aksi Nyata Modul 3.1
Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran.
Pada
kegiatan Aksi Nyata kali ini , saya akan
menuliskan dalam bentuk komponen 4 F yaitu Fact (peristiwa), Feelings
(perasaan), Findings (temuan pembelajaran) dan Future (penerapan di masa yang
akan datang). Kegiatan Aksi Nyata ini merupakan rangkaian dari kegiatan
Demonstrasi Kontekstual tentang Pengambilan keputusan sebagai pemimpin
pembelajaran yaitu tentang rencana, langkah-langkah yang diambil, kemudian
sosok yang dapat membantu pelaksanaan kegiatan.
Proses
pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran ini dilaksanakan
menggunakan 4 paradigma, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah dalam
pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman nyata yang terjadi di sekolah
asal.
Latar
Belakang
SD Negeri 4 Mataram IIir adalah salah satu Sekolah Dasar Negeri yang terletak di desa Mataram Ilir kecamatan Seputih Surabaya kabupaten Lampung Tengah. Sekolah ini terletak di perbatasan antara tiga desa yakni desa Mataram Ilir, desa Sumberkaton dan desa Bumi Nabung Timur serta berada di perbatasan Kecamatan antara kecamatan Seputih surabaya dan kecamatan Bumi Nabung dengan latar belakang penduduk berasal dari transmigran yang berasal dari pulau Jawa dan Bali yang tentu saja membawa agama dan kepercayaan, adat- istiadat serta budaya yang berbeda.
A. Fakta (Fact)
Peristiwa 1
Latar belakang
agama dan budaya jika tidak disikapi dengan bijak dan melalui penanaman
pemahaman toleransi yang baik, maka dapat menimbulkan perselisihan karena
perbedaan konsep beragama dan berbudaya yang berkembang di komunitas
masing-masing tempat tinggal murid. Sebagai Contoh, latar belakang masyarakat
transmigran asal Jawa yang berasal dari daerah Kauman, Jawa Tengah yang
berlandaskan budaya Islam dan pondok Pesantren sangat memegang erat sendi-sendi
Islami Siswa Muslim
dan berbeda sekali dengan transmigran masyarakat Bali yang beragama
Hindu dengan adat budayanya yang khas, terkadang pada suatu hal sangat bertolak
belakang antara masyarakat satu dengan lainnya.
| Siswa agama Hindu |
Perbedaan agama dan
budaya ini terkadang terbawa pada saat kegiatan di sekolah sehingga kadang
terjadi gesekan dan benturan pemahaman keagamaan dan kebudayaan antar siswa. Berdasarkan
masalah ini, maka kami para guru bersepakat untuk menjembatani perbedaan agama
dan budaya melalui kerjasama seluruh warga sekolah dengan memberikan edukasi
dan pemahaman-pemahaman beragama dan berbudaya berdasarkan masing-masing
kepercayaan yang dianut siswa serta dengan membuat dan merancang
kegiatan-kegiatan yang dapat menyatukan perbedaan dengan mengutamakan sikap
toleransi dan saling menghargai perbedaan antar warga sekolah.
| Siswa non muslim menyapu Mushola |
Hasilnya, sekarang
sudah terbiasa bertoleransi dengan menghormati hak-hak orang lain dalam
beribadah dan berbudaya dan tidak ada lagi gesekan atau benturan antar siswa
karena semua sudah saling memahami perbedaan masing-masing.
Kegiatan peribadatan di sekolah
Kegiatan sholat dhuha di sekolah
Peristiwa 2
Latar belakang
pendidik dan tenaga kependidikan yang berbeda. Hal ini karena sebagian besar
guru yang mengajar di SDN 4 Mataram Ilir adalah berstatus honorer dan masih ada
yang belum S1 sehingga ketercapaian kompetensi guru belum maksimal (terutama
dibidang IT) di tambah lagi kondisi sarana dan prasarana sekolah yang masih
terbatas dan kualitas sinyal internet yang buruk. Kegiatan yang menyangkut IT sangat tergantung operator sekolah yang
juga merangkap seorang guru sehingga banyak kegiatan yang tertunda dikarenakan
beban kerja OPS yang menumpuk dan kurang maksimalnya SDM yang ada.
Sebagai solusi atas
permasalahan tersebut maka saya bekerjasama dengan rekan guru untuk
melaksanakan kegiatan pendampingan IT. Kegiatan ini dilaksanakan di sela-sela
kesibukan mengajar dengan cara melakukan transfer ilmu mengenai pemanfaatan IT
didalam proses pembelajaran kepada guru-guru melalui laptop dan komputer
sekolah. Saya mengajak rekan – rekan guru untuk belajar menggunakan aplikasi
komputer demi menunjang kegiatan administrasi dan pembelajaran sehari-hari
seperti belajar MS Word, Excel,Google classroom, Gmeet, dan lain-lain.Kegiatan Pendampingan pembelajaran IT
Selain itu juga
kami membentuk komunitas praktisi yang membahas segala permasalahan yang
dihadapi pada saat proses pembelajaran untuk kemudian dipecahkan bersama-sama
dengan musyawarah dan kerjasama antar anggota komunitas praktisi sekolah.
B. Perasaan (Feelings)
Yang saya rasakan
pada saat melaksanakan kegiatan Aksi Nyata ini adalah saya merasa senang sekali
karena dapat berbagi ilmu dan pengalaman yang berguna dengan orang lain
sekaligus juga saya merasakan dilema etika pada diri saya. Dilema etika yang
saya rasakan adalah Individu lawan masyarakat (individual vs community), dan
jangka pendek lawan jangka panjang (short terms vs long terms). Dilema etika
individu lawan masyarakat adalah ketika saya harus membuat suatu perubahan atas
perbedaan agama dan kebudayaan yang terjadi di sekolah sebagai sebuah budaya
baru yang dapat mengakomodir segala kebutuhan warga sekolah. Proses ini
memerlukan waktu yang tidak sebentar dan juga kerja sama dari seluruh komponen
sekolah dan masyarakat untuk dapat memberikan pemahaman dan edukasi yang dapat
diterima oleh seluruh siswa tentang pentingnya budaya toleransi dan sikap
saling menghargai.
Dilema etika yang kedua yang saya rasakan adalah karena saya memikirkan efek jangka pendek dan jangka panjang dari kegiatan pendampingan dan pembelajaran IT ini karena dengan dimilikinya kemampuan akan IT maka diharapkan setiap rekan guru paling tidak dapat membuat sendiri kegiatan administrasi kelas misalnya Silabus, Prota, Prosem,RPP, Jurnal, dan kegiatan evaluasi siswa tanpa tergantung operator sekolah. Selain itu juga manfaat lainnya adalah dimilikinya kemampuan untuk dapat menyelenggarakan kelas virtual ditengah situasi pandemi seperti saat ini menggunakan beragam platform yang dapat dikembangkan sesuai dengan kemampuannya semisal google meet, google classroom, google slides, ruang guru, dan lain-lain.
C. Pembelajaran (Findings)
Adapun yang saya
temukan dalam kegiatan Aksi Nyata pada peristiwa 1 dan peristiwa 2 adalah
setiap permasalahan pasti ada jalan
keluar dan solusi dan setiap manusia tidak telepas dari proses belajar dan
belajar. Saya yakin dan percaya bahwa agama adalah rahmat dari Tuhan Yang Maha
Esa yang mengatur kehidupan manusia ke arah jalan kebaikan. Oleh karena itu pada
peristiwa 1, saya selalu menanamkan pemahaman akan pentingnya memahami dan
menghargai setiap ajaran agama serta selalu bersikap toleransi terhadap
perbedaannya. Saya melakukan pengambilan keputusan melalui berfikir berbasis rasa peduli (Care Based Thinking)
yakni dengan kepedulian terhadap sesama kita akan menjadi lebih peka dan
bersimpati. Penderitaan yang terjadi pada orang lain bisa jadi pembelajaran
bagi kita untuk lebih bersimpati. Kepekaan sosial selain ditunjukkan dengan
perasaan mengasihi dan menyayangi juga diperlihatkan dengan tindakan -tindakan
positif seperti mengunjungi orang tua murid yang meninggal, membersihkan
lingkungan ibadah secara bersama-sama, memberi izin kepada siswa yang beragama
Hindu untuk beribadah saat perayaan Galungan, saraswati dan lain-lain begitu
juga sebaliknya dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan lain.
Begitu juga dengan peristiwa
2, saya melakukan paradigma berfikir jangka pendek vs jangka panjang (short
terms vs long terms), saya berharap dengan aktif melakukan pendampingan belajar
IT maka diharapkan rekan-rekan guru di sekolah saya nantinya memiliki
kompetensi yang baik di bidang IT sehingga dapat dimanfaatkan mendukung
tugas-tugas guru dan meningkatkan profesionalitasnya di kemudian hari.
D.Penerapan Masa Depan (Future)
Saya berharap
nantinya setiap rekan guru di sekolah dapat menerapkan keterampilan Pengambilan
keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dengan memahami 4 Paradigma situasi
dilema etika seperti : Individu lawan masyarakat (individual vs community),
rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), kebenaran lawan kesetiaan
(truth vs loyality), jangka pendek lawan jangka panjang (short terms vs long
terms).
Selain itu juga memiliki
keterampilan berfikir melalui 3 prinsip berfikir yakni : Berfikir Berbasis Hasil
Akhir (Ends- Based Thinking), Berfikir Berbasis Peraturan (Rule Based Thinking),
dan Berfikir Berbasis Rasa Peduli (Care Based Thinking) serta melakukan 9
langkah pengujian penga,bilan keputusan.
Comments
Post a Comment